Selasa, 24 Juni 2008

MATI SEBELUM HIDUP

Mati Sebelum Lahir

Buku-buku yang bertumpuk diatas meja adalah teman begadangku setiap malam, dalam suasana yang sepi dan sunyi, aku ajak buku-buku tersebut untuk menghangatkan dinginya malam..

“Kenapa kepalaku terasa berat setelah membaca buku ini?”

“Aku ingin keluar dari pertapaanku.”

“Sipa kamu?”

“Aku adalah ide yang terusik setelah kamu membaca buku tadi.”

“Hai….kenapa kau merasa terusiik dengan buku yang aku baca tadi?”

“Pertanyaan bodoh……”

“Apa maksudmu….?”

“Apakah pertanyaan itu tidak muncul sebelum kau membaca buku tadi?”

“Oke…oke, aku ingin membaca buku ini karena aku ingin tahu sesatu yang belum aku ketahui……puas kau?”

“Lalu apa yang kau dapat setelah membaca buku tadi?’

“Bodoh sekali kau ide, yang aku dapat pasti pengetahuan baru.”

“Justru kau yang bodoh wahai manusia, aku ingin keluar dari tempat persemayamanku untuk mengabadikan apa yang kau dapat tadi……paham kau sekarang wahai manusia bodoh?”

“Kenapa kau harus keluar dari kepalaku wahai ide tak tahu diri?”

“Apakah kau tidak mengetahui wahai manusia,aku telah berada dalam dirimu sejak kamu masih berada dalam kandungan ibumu, aku pula yang membedakan antara kamu dengan makluk lainya, seperti malaikat, jin, setan, dan binatang. Tidakkah kau sadari hanya karena aku kau dianggap makluk yang paling sempurna diantara makluk yang lain .”

“Ya…ya aku sudah tahu tentang hal itu dan kau tidak perlu memberiku ceramah tentang hal itu, lalu apakah kau benar-benar ingin keluar sekarang, tidakkah kau tahu sekarang sudah larut malam, apakah tidak bisa kita bernegosiasi? Bagaimana sandainya kau keluar besok saja?”

“Tidak bisa aku harus keluar sekarang, sudah terlalu lama aku berada dalam tempurung kepalamu ini dan aku ingin keluar sekarang juga.”

“Seberapa penting akibat yang akan terjadi setelah kau keluar dari kepalaku, hingga kau harus memaksaku untuk mengeluarkanmu malam ini juga?”

“Berapa banyak lagi pertanyaan tidak perlu yang akan kau ajukan kepadaku wahai manusia bodoh, tidakkah kau tahu akibat kelahiranku dari kepala Aristoteles, Galileo Galilei, Isac Newton, Voltaire, hingga ilmuwan yang dikatakan paling genius abad ke-20 Albert Einstein.”

“Berarti kau tidak lahir dari kepala saja wahai ide?”

“Benar aku sudah lahir dari otak banyak orang yang bisa kau lihat dalam buku, jurnal penelitian, karya sastra , bahkan dalam media massa yang biasa kau ketahui setiap hari ….Ya itulah aku…ayo cepat sekarang biarkan aku keluar dari kepalamu!”

“Tunggu sebentar, kalau kau telah lahir dari banyak otak orang lain, kenapa malam ini kau ingin lahir lagi lewat oatakku?”

“Aku bisa lahir lewat otak siapapun tanpa ada perbedaan, bisa dari tukang becak, tukang semir sepatu, bahkan dari kau sendiri, asalkan mereka rajin mengasahku dan dapat mengabadikanku dalam bentuk yang nyata, seketika itu pula aku akan lahir dan akan abadi, kenapa kau bertanya seperti itu, apakah kau tidak senang apabila aku keluar melalui kepalamu?”

“Bukanya aku tidak senang kau lahir dari otakku, tetatpi setelah aku pertimbangkan apakah keuntnganya bagiku apabila kau terlahir dari otakku.”

“Wahai manusia, apakah kau tidak senang apabila namamu tetap harum dan dikenang orang banyak, walaupun jasadmu sudah tidak berguna lagi , bahkan saat nyawamu sudah tidak bersama tubuhmu lagi, kau akan tetap dihormati orang karena telah mengeluarkanmu dari otakmu.”

“Berarti hidupmu akan lebih lama dariku?”

“Benar hidupku akan lebih lama darimu, paling tidak aku dapat hidup dua kali lipat lebih lama dari umurmu.”

“Kau egois ide, kenapa kau dapat hidup lebih lama dariku, kau mementingkan dirimu sendiri tanpa memperdulikanku”.

“Wahai manusia, segala yang ada pada dirimu sangat terbatas…lalu apakah kau tidak senang, disaat jasad tidak lagi bersahabat denganmu, aku tetap survive untuk mengharumkan namamu…..ayo cepat keluarkan aku dari otakmu, sudah tidak ada waktu lagi.”

“Baiklah kau akan ku kelurkan sekarang, tetapi tunggu, kau akan ku kelurkan melalui apa?”

“Dasar manusia bodoh masih bertanya lagi, aku dapat keluar melalui kertas-kertas yang kau gores dengan tinta emas penamu.”

“Oke…Oke,akan kucari dulu kertas dan peralatanya untuk mengeluarkanya, tetapi kau harus sabar menunggu, aku harus makan dan membuat minuman dahulu sebelum mengeluarkanmu, perutku sudah tidak dapat diajak kompromi lagi…..ya kira-kira 15 menit lagi aku akan kembali lagi kesini untuk mengeluarkanmu…Oke.”

Sejenak ku tinggalkan ruang belajarku untuk makan sebentar dan membuat minuman penghangat agar tetap segar saat mengeluarkan ide tadi dari otakku, namun aneh pertanyaanku yang terakhir tadi tidak dijawab oleh ide,apakah dia marah dan pergi dariku….Ahh…..Bodoh amat, yang penting sekarang aku ingin makan sekenyang-kenyangnya setelah itu akan ku keluarkan ide yang sejak tadi mengusik pikiranku.

“Hai ide, sekarang aku sudah mencarikan pena dan kertas untuk mengeluarkanmu, aku juga sudah selesei makan dan membuat minuman……Ayo cepat sekarang bicaralah dan kelurlah kau dari oatakku!”

Sungguh aneh ide yang tadi memaksaku untuk mengeluarkanya dari dalam otakku tidak menjawab dan tidak pula segera keluar

“Hai ide sialan, ayo cepat keluar, apa kau sudah pergi, apa kau sudah hilang, pergi kemana kau,apa kau tidak ingat dengan semua ucapanmu kepadaku tadi, sialan terkutuklah engkau…….Kau mati sebelum dapat terlahir.”

Rupanya ide tadi telah mati dalam otakku sebelum dapat terlahir, aku terlalu lama mengajaknya berdebat. Apakah aku menyebabkan keterlambatanya terlahir, bahkan ide tadi mati sebelum lahir….Apakah justru ide tadi yang membohongiku?. Sipakah yang telah berdosa dengan kematian ide tadi. Aku ataukah ide itu sendiri?. Mudah-mudahan ide tadi telah pergi dan tidak menggangguku lagi, sekarang aku sudah selesei makan dan minum, saatnya untuk menemani ranjang tidur dan bantal guling yang indah ini

Sebenarnya ini bukan kejadian pertama yang aku alami, bahkan aku percaya tidak hanya aku yang sering mengalami. Ide-ide yang berada dalam jutaan otak manusia, yang memukul-mukul tempurungnya, pasti mengalami kejadian serupa apabila berhadapan dengan manusia yang mempunyai watak dan kebiasaan seperti aku….Ya ide memang bermacam-macam, ada yang lahir lalu hidup dengan survive, ada yang seketika telahir, namun dalam kurun waktu yang relatif singkat dia mati kembali, bahakan ada yang mati sebelum dia dapat telahir, seperti yang aku alami tadi.

Minggu, 22 Juni 2008

Perpisahan ini semakin lama semakin menyakitkan

Setiap kali kau berikan kecupan selamat tinggal, ada bagian hatiku sekarat menahan pedih. Sudah berapa kecupan kita bagi dalam rentang kebersamaan kita? Ratusan temu dan juga ratusan perpisahan. Berulang dan berulang. Memenggal hidup kita menjadi sepotong waktu kecil yang kita santap berdua, sebelum kita kembali pada menu hidup masing-masing. Waktu kulalui bersamamu adalah kesekejapan belaka. Hanya setetes dari seteguk cinta yang kuharapkan. Haus aku akan dirimu. Lapar aku akan cintamu. Sungguh Re, tak ingin aku kembali lepaskanmu jelajahi jarak 127 km yang pisahkan kita. Jauh dariku.

”Bukankah ini resiko kita? Bercinta terpisahkan jarak?”

Aku tahu Re. Sungguh aku tahu resiko yang kutanggung. Sedari perjumpaan pertama kita di satu kota, dilanjutkan dengan perjumpaan kedua di kota yang lain. Kita jalani hidup yang berbeda, di kota yang berbeda, Re. Dengan mobilitas begitu tinggi. Hingga kita saling berkejaran dengan jarak dan waktu. Mencuri waktu di tengah kesibukan. Berlomba penuhi target agar dapat menyelipkan namamu, atau namaku, dalam agenda bulanan kita. Menjalin cerita berbataskan maya dan sambungan telepon. Tapi kini itu tak lagi cukup, Re. Kegelisahan ini tak pernah berhenti. Rindu tak jua putus. Dan tentu saja, sepi masih saja meraja. Kala hidup kita tak saling bersinggungan. Tak bisakah kita berdiam dan menetap?

”Aku masih membangun mimpiku, mimpi kita. Tak bisakah kau sabar menungguku?”

Mimpi adalah dirimu, Re. Aku mengenalmu ketika kau bermain dalam awan mimpi. Tak hendak turun menjejak nyata. Kau dengan mimpimu adalah satu. Dalam setiap perjumpaan kita, kau selalu bercerita tentang mimpi-mimpimu. Seperti halnya kubagi mimpi milikku. Hingga melebur semua menjadi mimpi kita. Terajut perlahan bersama kasih yang kita nikmati berdua. Terangkum bersama karya-karya Hollywood yang rajin kita sambangi. Di antara cita rasa berbagai masakan eksotik manjakan lidah kita. Juga di atas bantal tempat kita sandarkan lelah setelah seharian menyusuri kota. Kamarku penuh oleh mimpi yang kita bincangkan, Re. Tapi ada pula harga yang harus kita bayar. Mimpi itu letakkan jarak di antara kita.

”Apakah mimpiku terlalu sederhana, Re?”
”Tak ada mimpi yang sederhana, Fee.”
”Apakah kau tahu mimpiku?”
”Bukankah sama dengan mimpiku?”

Mimpiku adalah pelengkap mimpimu, Re. Bukan sama dengan mimpimu. Kau melengkapi diriku, seperti halnya aku berharap diriku melengkapi dirimu. Kita berjalan sebagai dua lingkaran yang beririsan, namun bukan satu. Karena satu berarti penghilangan identitas yang lain. Dan aku tak dapat membiarkan diriku lebur dalam dirimu, seperti halnya aku tak akan merenggutmu dari hidupmu untuk bersatu dengan hidupku. Kita berbeda, tapi kita saling melengkapi. Begitu juga dengan mimpi-mimpi kita.

”Berikan aku waktu.”

Waktu kini tak memihak kita, Re. Terlalu banyak detik terlalui tanpa pelukanmu. Masa berlari cepat, dan tanpa kita sadari bulan sudah berulang kembali. Bincang sunyi dengan tembok kamarku tak lagi tenangkan gejolak batinku. Hujan yang kucinta pun terasa hambar tanpa percintaan kau dan aku di sela rintiknya. Malam sungguh dingin karena tak ada pelukmu. Aku merindukan seseorang tempat aku pulang, Re. Berbagi aksara dan juga cita. Tapi kau tak ada di sini. Gelenyar pedih ini terus bertambah, Re. Getir yang terasa pahit mendera inderaku. Bersama butiran air mata yang terus terurai. Jatuh berdebam seiring perpisahan demi perpisahan kita. Sakit ini masihlah akut, Re. Karena tak ada kau yang menjadi penawarnya. Apakah kau rasakan sakit ini juga, Re?

”Kamu terlalu egois, Fee.”

Ya.

Aku egois akan segala hal berkaitan denganmu.

Tapi bukankah keegoisan kita sama, Re?
Egois untuk bersama kala tubuh kita terpisah.
Dan perpisahan ini semakin lama semakin sakit.
Pulanglah, Re.
Padaku.