Mati Sebelum Lahir
Buku-buku yang bertumpuk diatas meja adalah teman begadangku setiap malam, dalam suasana yang sepi dan sunyi, aku ajak buku-buku tersebut untuk menghangatkan dinginya malam..
“Kenapa kepalaku terasa berat setelah membaca buku ini?”
“Aku ingin keluar dari pertapaanku.”
“Sipa kamu?”
“Aku adalah ide yang terusik setelah kamu membaca buku tadi.”
“Hai….kenapa kau merasa terusiik dengan buku yang aku baca tadi?”
“Pertanyaan bodoh……”
“Apa maksudmu….?”
“Apakah pertanyaan itu tidak muncul sebelum kau membaca buku tadi?”
“Oke…oke, aku ingin membaca buku ini karena aku ingin tahu sesatu yang belum aku ketahui……puas kau?”
“Lalu apa yang kau dapat setelah membaca buku tadi?’
“Bodoh sekali kau ide, yang aku dapat pasti pengetahuan baru.”
“Justru kau yang bodoh wahai manusia, aku ingin keluar dari tempat persemayamanku untuk mengabadikan apa yang kau dapat tadi……paham kau sekarang wahai manusia bodoh?”
“Kenapa kau harus keluar dari kepalaku wahai ide tak tahu diri?”
“Apakah kau tidak mengetahui wahai manusia,aku telah berada dalam dirimu sejak kamu masih berada dalam kandungan ibumu, aku pula yang membedakan antara kamu dengan makluk lainya, seperti malaikat, jin, setan, dan binatang. Tidakkah kau sadari hanya karena aku kau dianggap makluk yang paling sempurna diantara makluk yang lain .”
“Ya…ya aku sudah tahu tentang hal itu dan kau tidak perlu memberiku ceramah tentang hal itu, lalu apakah kau benar-benar ingin keluar sekarang, tidakkah kau tahu sekarang sudah larut malam, apakah tidak bisa kita bernegosiasi? Bagaimana sandainya kau keluar besok saja?”
“Tidak bisa aku harus keluar sekarang, sudah terlalu lama aku berada dalam tempurung kepalamu ini dan aku ingin keluar sekarang juga.”
“Seberapa penting akibat yang akan terjadi setelah kau keluar dari kepalaku, hingga kau harus memaksaku untuk mengeluarkanmu malam ini juga?”
“Berapa banyak lagi pertanyaan tidak perlu yang akan kau ajukan kepadaku wahai manusia bodoh, tidakkah kau tahu akibat kelahiranku dari kepala Aristoteles, Galileo Galilei, Isac Newton, Voltaire, hingga ilmuwan yang dikatakan paling genius abad ke-20 Albert Einstein.”
“Berarti kau tidak lahir dari kepala saja wahai ide?”
“Benar aku sudah lahir dari otak banyak orang yang bisa kau lihat dalam buku, jurnal penelitian, karya sastra , bahkan dalam media
“Tunggu sebentar, kalau kau telah lahir dari banyak otak orang lain, kenapa malam ini kau ingin lahir lagi lewat oatakku?”
“Aku bisa lahir lewat otak siapapun tanpa ada perbedaan, bisa dari tukang becak, tukang semir sepatu, bahkan dari kau sendiri, asalkan mereka rajin mengasahku dan dapat mengabadikanku dalam bentuk yang nyata, seketika itu pula aku akan lahir dan akan abadi, kenapa kau bertanya seperti itu, apakah kau tidak senang apabila aku keluar melalui kepalamu?”
“Bukanya aku tidak senang kau lahir dari otakku, tetatpi setelah aku pertimbangkan apakah keuntnganya bagiku apabila kau terlahir dari otakku.”
“Wahai manusia, apakah kau tidak senang apabila namamu tetap harum dan dikenang orang banyak, walaupun jasadmu sudah tidak berguna lagi , bahkan saat nyawamu sudah tidak bersama tubuhmu lagi, kau akan tetap dihormati orang karena telah mengeluarkanmu dari otakmu.”
“Berarti hidupmu akan lebih lama dariku?”
“Benar hidupku akan lebih lama darimu, paling tidak aku dapat hidup dua kali lipat lebih lama dari umurmu.”
“Kau egois ide, kenapa kau dapat hidup lebih lama dariku, kau mementingkan dirimu sendiri tanpa memperdulikanku”.
“Wahai manusia, segala yang ada pada dirimu sangat terbatas…lalu apakah kau tidak senang, disaat jasad tidak lagi bersahabat denganmu, aku tetap survive untuk mengharumkan namamu…..ayo cepat keluarkan aku dari otakmu, sudah tidak ada waktu lagi.”
“Baiklah kau akan ku kelurkan sekarang, tetapi tunggu, kau akan ku kelurkan melalui apa?”
“Dasar manusia bodoh masih bertanya lagi, aku dapat keluar melalui kertas-kertas yang kau gores dengan tinta emas penamu.”
“Oke…Oke,akan kucari dulu kertas dan peralatanya untuk mengeluarkanya, tetapi kau harus sabar menunggu, aku harus makan dan membuat minuman dahulu sebelum mengeluarkanmu, perutku sudah tidak dapat diajak kompromi lagi…..ya kira-kira 15 menit lagi aku akan kembali lagi kesini untuk mengeluarkanmu…Oke.”
Sejenak ku tinggalkan ruang belajarku untuk makan sebentar dan membuat minuman penghangat agar tetap segar saat mengeluarkan ide tadi dari otakku, namun aneh pertanyaanku yang terakhir tadi tidak dijawab oleh ide,apakah dia marah dan pergi dariku….Ahh…..Bodoh amat, yang penting sekarang aku ingin makan sekenyang-kenyangnya setelah itu akan ku keluarkan ide yang sejak tadi mengusik pikiranku.
“Hai ide, sekarang aku sudah mencarikan pena dan kertas untuk mengeluarkanmu, aku juga sudah selesei makan dan membuat minuman……Ayo cepat sekarang bicaralah dan kelurlah kau dari oatakku!”
Sungguh aneh ide yang tadi memaksaku untuk mengeluarkanya dari dalam otakku tidak menjawab dan tidak pula segera keluar
“Hai ide sialan, ayo cepat keluar, apa kau sudah pergi, apa kau sudah hilang, pergi kemana kau,apa kau tidak ingat dengan semua ucapanmu kepadaku tadi, sialan terkutuklah engkau…….Kau mati sebelum dapat terlahir.”
Rupanya ide tadi telah mati dalam otakku sebelum dapat terlahir, aku terlalu lama mengajaknya berdebat. Apakah aku menyebabkan keterlambatanya terlahir, bahkan ide tadi mati sebelum lahir….Apakah justru ide tadi yang membohongiku?. Sipakah yang telah berdosa dengan kematian ide tadi. Aku ataukah ide itu sendiri?. Mudah-mudahan ide tadi telah pergi dan tidak menggangguku lagi, sekarang aku sudah selesei makan dan minum, saatnya untuk menemani ranjang tidur dan bantal guling yang indah ini
Sebenarnya ini bukan kejadian pertama yang aku alami, bahkan aku percaya tidak hanya aku yang sering mengalami. Ide-ide yang berada dalam jutaan otak manusia, yang memukul-mukul tempurungnya, pasti mengalami kejadian serupa apabila berhadapan dengan manusia yang mempunyai watak dan kebiasaan seperti aku….Ya ide memang bermacam-macam, ada yang lahir lalu hidup dengan survive, ada yang seketika telahir, namun dalam kurun waktu yang relatif singkat dia mati kembali, bahakan ada yang mati sebelum dia dapat telahir, seperti yang aku alami tadi.
1 komentar:
Tulisan yang kreatif, namun na'if. awla yang baik untuk menulis. namun tak ada ruh yang menyertainya. hanya bersifat keluh kesah.
paksa dirimu tuk berpikir lebih dari yang ada.
Posting Komentar